Delangi.com – Aktivitas pertambangan membawa dampak signifikan terhadap keanekaragaman dan populasi hewan melalui kerusakan habitat, pencemaran lingkungan, Dan akan mengalami gangguan ekosistem pada kehidupan.
Maluku Utara tidak terlepas dari aktivitas pertambangan, kehadiran pertambangan membawa kekhawatiran masyarakat serta populasi hewan di belantara hutan Halmahera, pembukaan lahan besar besaran untuk area pertambangan hal ini berdampak langsung kepada hewan dengan kehilangan tempat tinggal, akibat bertujuan pada kematian, atau penurunan populasi yang drastis.
Kita akan lihat beberapa tahun kedepan, mereka akan mengisolasi diri dan atau menghambat pergerakan hingga meningkatkan resiko kepunahan. Hal ini terlihat jelas, pembabatan hutan tidak henti-henti dilakukan seolah tidak terjadi apa-apa.
Penulis mengajak pembaca flashcabk di beberapa bulan terakhir, masyarakat adat maba Sangaji menolak adanya aktivitas pertambangan dikarena mereka tahu betul jika hal tersebut tidak di halangi, maka yang justru terjadi berdampak langsung kepada kerusakan habitat dan kepunahan populasi hewan, tidak hanya berdampak kepada keanekaragaman hewan, tapi ini juga akan berdampak langsung oleh kebun, sungai, dan lain lain.
Realitas objektif membuktikan bahwa sebelum ada tambang sungai Sangaji Masi jernih airnya, bahkan dikonsumsi oleh masyarakat disekitar, namun kehadiran pertambangan justru merubah sungai Sangaji menjadi keru karena suda terkontaminasi dengan zat-zat, salah satunya adalah pengaruh limbah yang mengikuti pola kemiringan lereng.
Hal yang tidak pernah terbayangkan oleh masyarakat adat maba Sangaji dengan penolakan adanya aktivitas pertambangan justru membawa malapetaka yang tidak rasional, mereka masyarakat Maba Sangaji dituding sebagai premanisme, oleh tameng investasi pertambangan, penolakan ini sebagai bentuk kesadaran masyarakat adat maba Sangaji, karena mereka tahu akan terjadi degradasi pori-pori tanah, dan atau kualitas tanah tidak produktif kemudian hari.
Kita semua tahu dan mungkin kita semua merasakan bahwa kita di Maluku Utara bersentuhan langsung dengan alam, Maka wajar jika masyarakat adat maba Sangaji hari ini menolak tambang.
Penolakan pertambangan oleh masyarakat adat maba Sangaji, tidak terlepas dari kesadaran moral, langkah ini sebagai bentuk spirit perjuangan yang tidak pernah padam, warisan alam di belantara hutan Halmahera dititip oleh generasi perlu di lestarikan ini adalah harga diri yang perlu dijaga, dirawat, bukan malah ditelanjangi lalu dibiarkan begitu saja.
Idealnya penolakan ini melibatkan seluruh masyarakat sipil khususnya masyarakat adat maba Sangaji, tujuan penolakan ini untuk melindungi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Fakta ilmiah membuktikan betapa kerusakan lingkungan serta pencemaran air, terjadi yang sangat signifikan.
Terlihat jelas dampak sosial ekonomi yang merugikan bukan sekedar sentimen emosional ini fakta real menunjukan kerugian nyata bagi mata pencaharian masyarakat adat maba Sangaji, seperti para petani.



Tinggalkan Balasan