Delangi.com – Nelson Mandela pernah berkata, “Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia.” Sayangnya, di Indonesia pendidikan tinggi justru semakin kehilangan arah. Setiap tahun ribuan sarjana dilahirkan, namun tidak sedikit yang justru menjadi beban keluarga. Kampus yang seharusnya menjadi kawah candradimuka kaum intelektual kini terjebak menjadi pabrik ijazah tanpa jiwa.
Krisis Nalar Kritis
Alih-alih melahirkan generasi kritis, kampus justru menghasilkan generasi apatis. Mahasiswa baru dibentuk untuk tunduk, bukan bertanya. Lebih buruk lagi, ada oknum internal kampus yang sengaja mendorong mahasiswa untuk bungkam atas realitas sosial. Akibatnya, angka pengangguran sarjana terus bertambah, dan kepercayaan masyarakat terhadap dunia pendidikan kian memudar.
Di Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU), mahasiswa melalui BEM berulang kali mengingatkan pentingnya Catur Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, dan dakwah islamiyah. Namun jargon ini tidak berarti apa-apa jika kampus hanya menekankan prestasi akademik tanpa melatih keberpihakan sosial. Semangat pendidikan yang diwariskan KH. Ahmad Dahlan, Dr. Wahidin Sudirohusodo, dan Ki Hajar Dewantara harus kembali ditegakkan: pendidikan untuk memerdekakan manusia, bukan menjadikannya budak ijazah.
Segeralah tetapkan pilihan dengan sedikit nyali. Sejarah mencatat, banyak kejahatan terjadi bukan karena kuatnya penindas, melainkan karena diamnya orang baik. Martin Luther King Jr. pernah berkata, tragedi terbesar bukanlah kekejaman orang jahat, melainkan kebisuan orang baik. Netralitas di hadapan penderitaan rakyat sejatinya adalah bentuk pengkhianatan.
Tuhan sudah membekali manusia dengan akal, fisik, dan nurani untuk menegakkan keadilan. Maka, membiarkan kezaliman atas nama netralitas hanyalah mempercepat kerusakan dunia. Diam berarti bersekutu dengan ketidakadilan.
Paradoks Kehidupan
Pernah ada ungkapan satir: “Jika pohon bisa menghasilkan jaringan Wi-Fi, mungkin orang-orang akan berbondong-bondong menanamnya. Sayang, pohon hanya menghasilkan oksigen, sesuatu yang lebih vital bagi manusia.” Ironi ini menggambarkan bagaimana manusia sering mengabaikan hal yang paling esensial. Begitu pula dengan pendidikan dan keadilan: tanpa keduanya, mustahil peradaban bisa sehat.
Kini, kampus yang seharusnya menjadi mercusuar akal sehat justru terjebak dalam kebisuan. Jika hal ini terus dibiarkan, maka semboyan “Tut Wuri Handayani” hanya akan tinggal slogan usang, dikubur bersama generasi yang kehilangan keberanian.



Tinggalkan Balasan