Delangi.com – Di sebuah jalan raya yang mendadak berubah menjadi lautan manusia, kita sering membayangkan cinta telah pergi jauh, tersesat di antara megafon, debu aspal, dan jargon-jargon yang digemakan seperti mantra perlawanan.
Demonstrasi, kata orang, adalah panggung kemarahan. Namun benarkah kemarahan meniadakan cinta? Atau justru di situlah cinta mencoba menemukan bentuknya yang paling jujur?
Mungkin cinta dalam demonstrasi bukanlah tatapan lembut dua kekasih, melainkan keberanian sekelompok manusia untuk berkata: “Ada yang harus kita jaga, ada yang harus kita bela.” Cinta semacam ini tidak memakai parfum manis; ia membawa aroma keringat, panas matahari, dan suara-suara yang bergetar oleh harapan yang lama tertunda.
Kita sering takut pada keramaian. Pada suara yang meninggi. Pada benturan antara keyakinan dan kepentingan. Namun cinta tidak selalu lahir dari keheningan.
Kadang ia muncul dari tubuh-tubuh yang saling merapat, dari tangan-tangan yang mengangkat poster, dari langkah-langkah yang menolak pulang sebelum kata “adil” menemukan maknanya kembali.
Tetapi di tengah gelombang massa, kita juga melihat dua barisan yang berhadapan: peserta protes dan aparat. Keduanya manusia. Keduanya punya rumah untuk pulang, dan kecemasan yang tak pernah mereka ceritakan.
Lalu mengapa kita kerap melupakan itu? Mengapa wajah seseorang bisa berubah menjadi simbol permusuhan begitu cepat, hanya karena ia berdiri di barisan yang berbeda?
Cinta dalam demonstrasi, mungkin, adalah ketika kita mampu melihat lebih jauh dari seragam, dari spanduk, dari identitas yang sementara. Ketika kita sadar bahwa di balik rompi anti-huru-hara dan di balik jaket-jaket hitam yang berkerumun, ada hati yang sama-sama berdebar. takut pada kekacauan, namun tetap memilih hadir karena merasa ada yang harus disuarakan.
Kemarahan yang lahir dari cinta tidak menghancurkan; ia mengingatkan. Ia mengajak. Ia memanggil kita untuk melihat luka bersama, bukan menambah luka baru.
Marah yang berakar dari cinta adalah marah yang percaya pada dialog, pada kemungkinan bahwa manusia bisa berubah arah jika disentuh oleh suara nurani.
Jika suatu hari bangsa ini benar-benar mampu saling mencintai dalam demonstrasi, mungkin jalan raya tidak lagi menjadi arena saling curiga, melainkan ruang pertemuan yang paling manusiawi.
Ruang di mana kita bisa berteriak tanpa menghina, mendesak tanpa melukai, berbeda tanpa saling meniadakan.
Di negeri yang kerap terbelah oleh kepentingan dan slogan, mencintai sesama manusia, bahkan ketika kita berdiri pada kubu yang berbeda adalah tindakan paling radikal. Cinta semacam itu adalah cahaya kecil yang muncul di sela-sela barisan; mungkin redup, tetapi cukup untuk mengingatkan kita bahwa demokrasi bukan sekadar soal siapa yang menang berteriak, melainkan siapa yang paling mampu menjaga kemanusiaan tetap utuh.
Dan barang kali, pada suatu sore yang bising oleh tuntutan dan janji, kita akan menyadari: cinta tidak pernah meninggalkan demonstrasi. Ia hanya menunggu kita berhenti membencinya.



Tinggalkan Balasan