Halmahera Selatan, Delangi.com – Kepemimpinan Supriyadi Soleman sebagai Kepala Desa Liboba Hijrah, Kecamatan Kepulauan Joronga, Kabupaten Halmahera Selatan, menuai sorotan. Setelah dua tahun menjabat, dinilai belum ada perubahan signifikan di desa yang berada di ujung selatan Pulau Halmahera itu.
Desa Liboba Hijrah dikenal memiliki tantangan geografis yang berat. Struktur tanah yang didominasi karang dan akses transportasi yang terbatas menjadikan pembangunan infrastruktur sebagai kebutuhan mendesak. Namun, hingga kini, dermaga sederhana yang diharapkan warga belum juga terwujud. Kapal-kapal masih harus berlabuh di laut lepas, sementara aktivitas bongkar muat barang berlangsung penuh risiko.
“Kami kecewa karena kondisi desa tetap stagnan. Seharusnya dana desa bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki akses transportasi dan ekonomi masyarakat,” kata Subhan M. Lakoda, Ketua Umum Himpunan Pelajar Mahasiswa Liboba Hijrah (Hipmal), Rabu (01/10/2025).
Selain soal infrastruktur, mereka juga menyoroti kehadiran kepala desa yang dinilai jarang berada di tempat. Menurut Subhan, Supriyadi sering kali bepergian ke Bacan dalam jangka waktu lama, sehingga masyarakat merasa ditinggalkan. “Siapa yang mendengar keluhan warga saat kepala desa tidak ada? Program desa berjalan tanpa arah,” ujarnya.
Isu transparansi penggunaan dana desa turut menjadi perhatian. Setiap tahun, dana desa dicairkan dalam jumlah signifikan. Namun, laporan rinci terkait alokasi anggaran dinilai tidak jelas. Rapat desa disebut hanya bersifat formalitas, tanpa penjelasan detail atau bukti pengeluaran yang dapat diakses publik.
Warga berharap adanya perubahan pola kepemimpinan di Desa Liboba Hijrah. Mereka menuntut kepala desa lebih hadir, akuntabel, dan berpihak pada masyarakat. “Liboba Hijrah pantas lebih baik. Kami ingin pembangunan yang nyata, bukan sekadar janji,” tegas Subhan.
Hingga berita ini ditayangkan, Supriyadi Soleman enggan memberikan keterangan resmi terkait kritikan terhadap kepemimpinannya.



Tinggalkan Balasan