Delangi.com – Kamis Malam sesudah bad’a Subuh Saya mengambil sebatang Rokok bermerek Dio dari sarungnya (Bungkusan). Sambil ditemani sisa kopi yang dibawah salah satu adik Mahasiswa yang datang berkunjung untuk berdiskusi mengenai isu-isu penting dewasa ini dan khususnya tentang kemahasiswaan.
Berbekal rokok dan kopi, saya kembali membuka beberapa lembar buku Drs Azhari Akmal Tarigan, M.Ag yang berjudul Islam Mazhab HMI | Tafsir Tema Besar Nilai Dasar Perjuangan (NDP). Dan juga pagi ini saya rampungkan bacaan buku Ir.Soerkarno Tentang Nasionalisme,Islamisme dan Marxisme.
Selesai membaca saya, putuskan keluar dan menghirup udara segar disekitar jalan setapak yang masih sunyi karena semua orang masih sibuk merebahkan tubuhnya. Singkatnya saya kemudian mengambil Handpone saya dan mulai menulis sedikit rekaman tentang dinamika kampus yang tidak lagi ideal untuk dijadikan Rumah Pencetak Intelektual yang ber-Rausyan Fikir Kritis dan Maju.
Dalam sebuah kampus negeri nan religius, di kota yang katanya sejuk tapi suhu politiknya sering bikin gerah, sedang berlangsung tradisi empat tahunan yang lebih mendebarkan dari drama Korea: pemilihan rektor. Tapi jangan salah, ini bukan sekadar kontes intelektual atau ajang adu program visioner. Ini lebih mirip ajang “Siapa Mau Jadi Rektor?” versi tanpa buzzer, tanpa rating, dan tentu saja—tanpa transparansi.
Calon-calon maju ke gelanggang. Kalau diibaratkan tim Futsal Soccer, ini sudah cukup untuk satu skuad utama plus satu cadangan. Tapi sayangnya, yang dicadangkan bukan kualitas, melainkan integritas. Uniknya, dari calon-calon tersebut, satu pun tidak membuat publik berucap: “Ini dia sang pemimpin masa depan!” Yang ada malah, “Loh, dia nyalon ?”
Visi dan misi mereka—kalau pun ada—mungkin ditulis di balik nota belanja atau diketik pakai huruf font ‘invisible’. Website resmi pemilihan? Mungkin ada, mungkin tidak, atau mungkin cuma panitia dan Google yang tahu keberadaannya. Bandingkan dengan kampus sebelah, yang biografi calon rektornya tampil lengkap dengan foto, CV, video pidato, sampai diagram SWOT. Di sini? Informasi calon rektor lebih sulit diakses daripada soal UAS tahun lalu yang hilang di flashdisk.
Yang mengejutkan, proses seleksi seolah berjalan dengan prinsip “rahasia adalah segalanya”. Panitia seleksi tampil laksana ninja: senyap, tak terlihat, tapi katanya bekerja. Padahal publik hanya butuh satu hal sederhana: tahu siapa yang akan memimpin mereka, dan apa rencananya. Tapi mungkin konsep “keterbukaan informasi publik” masih dianggap sebagai bid’ah teknologi. Lagipula, transparansi terlalu mainstream, bukan?
Mari kita bahas para calon. Kalau Anda berharap ada yang pernah jadi dekan, punya publikasi internasional, atau minimal bisa presentasi tanpa membuat audiens tertidur, maka bersiaplah kecewa. Kebanyakan dari mereka lebih piawai jadi komentator grup WhatsApp fakultas daripada memimpin perubahan. Kapasitas manajerial? Jangan tanya. Yang tampak justru kemampuan berswafoto dengan pejabat, dan repost pujian dari teman sejawat yang juga nyalon. Ini bukan kompetisi gagasan, tapi kompetisi eksistensi.
Saking minimnya prestasi, beberapa calon bahkan bangga mengusung program kerja seperti: “Menjaga yang sudah ada.” Itu sama seperti mencalonkan diri jadi presiden dengan janji “akan tetap menghirup udara.” Padahal yang dibutuhkan kampus ini adalah revolusi berpikir, bukan sekadar rotasi jabatan.
Dan jangan lupakan panitia seleksi. Kalau panitia ini sebuah film, genrenya adalah horor: sunyi, gelap, dan penuh misteri. Aturannya berubah-ubah, kriterianya samar, dan pengumumannya suka datang tengah malam, seperti hantu kiriman. Ketika ditanya soal prosedur, mereka menjawab dengan nada sakral, “Ini sudah sesuai aturan,” meskipun tak ada yang tahu aturan mana yang dimaksud. Mungkin kitab seleksi itu diturunkan lewat mimpi.
Anehnya lagi, warga kampus seolah diajak pasrah sambil dihibur dengan harapan semu: “Doakan saja yang terbaik.” Padahal kalau hasilnya tetap seperti dua periode terakhir—di mana pembangunan lebih banyak terjadi dalam bentuk spanduk ucapan selamat daripada perubahan nyata—maka doa itu perlu dikaji ulang.
Infrastruktur kampus? Masih itu-itu saja. Suprastruktur? Lebih supranatural: tak tampak tapi katanya ada. Mahasiswa kesulitan akses literatur, dosen kewalahan dengan sistem yang membingungkan, dan kelas-kelas tetap lebih sempit dari parkiran Mobil dan motor dosen. Tapi semua itu dianggap biasa, karena katanya “yang penting niatnya baik.” Ya, seperti orang mau operasi bedah tapi hanya berbekal doa dan niat—hasilnya bisa ditebak.
Jadi, ke mana harapan kita berlabuh?
Mungkin saat ini hanya bisa ke tempat fotokopi, sambil berharap ada yang mencetak brosur visi-misi yang asli, bukan hasil copas. Atau mungkin kita perlu membuat reality show kampus: “Rektor Idol”, dengan juri dari mahasiswa dan alumni, biar terasa demokratis.
Di ujung semua ini, kita hanya bisa tertawa miris. Karena di negeri ini, kadang pemimpin bukan dipilih karena terbaik, tapi karena paling tidak berbahaya. Atau paling bisa menyenangkan yang punya kuasa. Maka tak heran jika kampus tak kunjung melesat, karena mesin penggeraknya diisi orang-orang yang takut mencoba hal baru, tapi nekat mencalonkan diri.
Ya tentu kita harus optimis. Optimis bahwa kelak akan ada satu kampus yang menjadikan pemilihan rektor sebagai momen intelektual, bukan sekadar rotasi jabatan.
Dulu Taman Firdaus itu perna ada, dimana taman-tamannya dinikmati oleh Para Mahasiswa untuk bersantai sambil Membaca dan Diskusi dibawah Pimpinan yang Intelektual Religius .tapi kini kampus bak neraka.
Sampai saat itu tiba, mari kita nikmati acara ini sambil duduk di bangku tua ruang senat yang dari zaman Orde Baru belum pernah diganti. Hidup pendidikan! Walau kadang terasa seperti hidup segan, mati tak direvisi.
Ternate, 11 September 2025



Tinggalkan Balasan