Delangi.com – Desa Saketa, Kecamatan Gane Barat, Kabupaten Halmahera Selatan, mendadak memanas pada Selasa (27/08/2025). Sejak pagi, ratusan warga berbondong-bondong menuju kantor desa. Mereka tidak sekadar datang membawa spanduk dan teriakan, tetapi juga membawa amarah yang sudah lama dipendam. Bagi mereka, kepercayaan yang diberikan kepada Kepala Desa Idjul Kiat sudah dikhianati.
Di halaman kantor desa, ban-ban bekas dibakar. Asap hitam mengepul ke langit, menjadi simbol kemarahan yang tidak lagi bisa dibendung. Suasana makin panas ketika warga memaksa sang kepala desa keluar dari ruang kerjanya untuk menyaksikan langsung kekecewaan warganya. Kantor desa pun diboikot, tak ada lagi pelayanan yang berjalan seperti biasa.
Ahmat Boni, koordinator aksi, dengan lantang menyuarakan sederet dugaan penyimpangan dana desa. Ia menyebut anggaran Rp20 juta untuk penyusunan Profil Desa tahun 2023 yang tak kunjung terealisasi hingga 2025. Dana Rp80 juta untuk program sandang pangan pada 2024 juga tak jelas ke mana perginya. Bahkan, pengadaan dua unit perahu katinting senilai Rp50 juta dianggap tidak sesuai dengan rencana anggaran biaya dan kualitasnya pun diragukan.
“Uang sebesar itu, hasilnya tidak kelihatan. Ini bukan lagi sekadar kelalaian, tapi kami menduga ada praktik korupsi,” tegas Ahmat disambut sorak warga.
Tuntutan massa tidak berhenti pada desakan agar Idjul Kiat mundur. Mereka juga meminta Bupati Halmahera Selatan, Hasan Ali Bassam Kasuba, segera turun tangan. Inspektorat didesak melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh penggunaan dana desa Saketa, baik proyek fisik maupun non-fisik.
Lebih jauh, warga mendesak bupati menonaktifkan sang kepala desa untuk mencegah potensi hilangnya bukti dan agar proses hukum bisa berjalan transparan. Camat Gane Barat pun diberi peringatan keras untuk meneruskan tuntutan warga ke Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD).
Di akhir aksi, orator menutup dengan nada ancaman. “Kalau tuntutan ini tidak ditindaklanjuti, jangan salahkan kami kalau akan ada aksi yang lebih besar lagi.”
Bagi warga Saketa, ini bukan sekadar soal uang. Ini soal amanah yang dikhianati, soal kepercayaan yang dicederai. Dan di hari itu, mereka bersatu menyatakan cukup sudah.



Tinggalkan Balasan