Delangi.com – Yusrianto Hardi, pria asal Halmahera Selatan, telah lama dikenal sebagai sosok yang tidak mudah menyerah. Dalam tiap langkahnya, ia membawa semangat yang bukan sekadar ambisi pribadi, melainkan sebuah panggilan batin untuk mengabdi pada tanah kelahiran. Kini, ia menyiapkan diri untuk bertarung dalam kontestasi Ketua KNPI Halmahera Selatan, dengan keyakinan bahwa pemuda adalah simpul-simpul energi yang, bila digerakkan bersama, dapat mengubah wajah daerah.
Di mata para aktivis muda, Yusrianto bukan hanya seorang kawan seperjuangan, melainkan panutan. Ia menolak menyerah pada keadaan, dan memilih untuk menyalakan lentera, meski di tengah gelap. Di forum-forum diskusi, di jalanan yang penuh teriakan aspirasi, hingga di ruang-ruang perenungan sunyi, ia hadir dengan konsistensi yang jarang dimiliki.
Konsep yang ia usung, equilibrium, bukan sekadar kata asing yang dipoles agar terdengar megah. Bagi Yusrianto, equilibrium adalah keseimbangan antara idealisme dan realitas, antara keberanian melawan dan kebijaksanaan merangkul, antara mimpi yang jauh di langit dan langkah yang harus berpijak di bumi. Dalam pandangannya, pemuda Halmahera Selatan harus mampu menemukan titik tengah itu: menjadi keras ketika melawan ketidakadilan, namun lembut ketika merangkul sesama.
Ia ingin KNPI bukan lagi sekadar organisasi formal dengan rapat-rapat rutin yang kering makna. Ia membayangkan KNPI sebagai ruang equilibrium, tempat setiap pemuda bisa bersuara tanpa takut ditenggelamkan oleh hirarki, tempat gagasan liar bisa dipertemukan dengan rencana konkret, dan tempat idealisme dipertautkan dengan tindakan nyata.
Yusrianto paham, jalan ini tidak mudah. Equilibrium bukan kondisi statis; ia adalah pertarungan abadi antara tarik-menarik kepentingan, ego, dan kepedulian. Namun justru di sanalah makna sejati perjuangan pemuda: menjaga keseimbangan sambil terus bergerak maju. Dan di wajah Yusrianto, keseimbangan itu bukan utopia, melainkan janji yang sedang ia upayakan dengan segala daya.
Maka, ketika ia berbicara tentang equilibrium, yang ia maksud bukanlah sebuah titik hening tanpa gejolak. Melainkan sebuah harmoni di tengah riuh, sebuah keberanian untuk tetap berdiri tegak di antara arus deras, dan sebuah keyakinan bahwa pemuda Halmahera Selatan bisa menjadi penyeimbang dalam roda sejarah yang terus berputar.
Dan di Halmahera Selatan, di tanah yang membesarkannya, Yusrianto Hardi ingin membuktikan bahwa pemuda bukan sekadar penonton sejarah. Mereka adalah pelaut yang berani mengibarkan layar, mencari arah baru, dan menuliskan jejak perubahan. Jika kelak ia dipercaya memimpin KNPI, equilibrium yang ia usung akan menjadi kompas, menuntun generasi muda untuk tetap tegak, meski ombak setinggi apa pun menghadang.
Penulis: Faisal Bian, MURP.



Tinggalkan Balasan