Delangi.com – Hari Raya Idul Adha sering kali dipahami hanya sebagai ritual tahunan penyembelihan hewan kurban. Takbir menggema di langit-langit masjid, sapi dan kambing disembelih, lalu daging dibagikan kepada masyarakat. Namun, jika direnungkan lebih dalam, Idul Adha sesungguhnya bukan sekadar ritus keagamaan, melainkan peristiwa filsafat tentang bagaimana manusia belajar menjadi manusia melalui pengorbanan.

Di tengah dunia modern yang dipenuhi individualisme dan materialisme, manusia perlahan kehilangan makna pengorbanan. Kehidupan dibangun di atas persaingan tanpa batas. Segala sesuatu diukur dengan keuntungan pribadi. Bahkan relasi sosial sering berubah menjadi hubungan transaksional. Manusia modern berhasil menaklukkan teknologi, tetapi gagal menaklukkan dirinya sendiri.

Dalam situasi inilah, Idul Adha hadir sebagai kritik moral terhadap peradaban yang terlalu memuliakan ego.

Kisah Nabi Ibrahim merupakan simbol pergulatan manusia melawan keterikatan duniawi. Ketika Ibrahim diperintahkan untuk mengorbankan Ismail, yang diuji sesungguhnya bukan sekadar kepatuhan ritual, melainkan kemampuan manusia untuk melepaskan ego kepemilikan.

Dalam pandangan soren Kierkegaard, kisah Ibrahim adalah bentuk “lompatan iman”, sebuah keberanian eksistensial ketika manusia rela melampaui logika demi nilai spiritual yang diyakininya. Bagi Kierkegaard, iman sejati selalu menuntut keberanian untuk menghadapi kegelisahan dan kehilangan.

Sementara itu, Ali Shariati memandang kurban sebagai simbol perjuangan sosial dan pembebasan manusia. Menurutnya, Ibrahim bukan sekadar tokoh agama, tetapi simbol revolusi moral yang melawan segala bentuk penyembahan terhadap selain Tuhan, termasuk penyembahan terhadap kekuasaan, harta, dan ego manusia. Karena itu, pengorbanan dalam Idul Adha harus dimaknai sebagai upaya membebaskan manusia dari penindasan dan kerakusan.

Pandangan tersebut relevan dengan kondisi masyarakat hari ini. Banyak orang tampak religius secara simbolik, tetapi gagal menghadirkan nilai kemanusiaan dalam kehidupan sosial. Tempat ibadah penuh, tetapi korupsi tetap tumbuh. Takbir berkumandang, tetapi ketidakadilan dibiarkan hidup. Agama sering kali berhenti pada seremoni, tanpa keberanian melawan ketimpangan sosial.

Di sinilah pemikiran Karl Marx menarik untuk direnungkan. Marx pernah menyebut bahwa agama dapat berubah menjadi “candu” ketika ia hanya menjadi alat pelipur tanpa menghadirkan perubahan nyata dalam kehidupan manusia. Tentu Idul Adha tidak boleh jatuh pada kondisi demikian. Kurban seharusnya menjadi energi sosial yang melahirkan solidaritas dan keberpihakan terhadap kaum lemah.

Dalam perspektif humanisme religius, pengorbanan adalah jalan memanusiakan manusia. Nurcholish Madjid pernah menegaskan bahwa inti agama adalah kemanusiaan. Kesalehan tidak cukup diukur dari hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga dari sejauh mana manusia mampu menghadirkan keadilan dan kasih sayang bagi sesama. Karena itu, Idul Adha tidak boleh berhenti pada penyembelihan hewan, melainkan harus menyentuh penyembelihan sifat tamak, egois, dan rakus dalam diri manusia.

Delangi Indonesia.com
Editor
Delangi Indonesia.com
Reporter