Ternate, Delangi.com – Tim Hisab, Rukyat, dan Tanda Waktu Kota Ternate yang terdiri dari BMKG Stasiun Geofisika Ternate dan unsur terkait melaksanakan pengamatan hilal untuk menentukan awal Ramadan 1447 Hijriyah. Kegiatan itu berlangsung di Gedung Observatorium Hilal BMKG, Afe Taduma, Kecamatan Pulau Ternate, Selasa (17/02/2026).
Pengamatan dipimpin Kepala BMKG Stasiun Geofisika Ternate, Gede Eriksana Yasa, dan dihadiri Wakil Wali Kota Ternate Nasri Abubakar, Sekretaris Daerah Rizal Marsaoly, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Maluku Utara Amar Manaf, serta sejumlah pihak terkait.
Gede Eriksana Yasa mengatakan, pengamatan hilal merupakan bagian dari tugas BMKG dalam memberikan informasi posisi bulan sebagai dasar penentuan awal bulan hijriyah. Ia menyebut, selain perhitungan hisab, BMKG juga melakukan rukyat hilal di 37 titik di seluruh Indonesia, termasuk di Ternate.
“BMKG tidak hanya menyajikan data hisab, tetapi juga melakukan pengamatan langsung hilal di berbagai daerah, salah satunya di Observatorium Hilal BMKG Ternate,” ujar Gede.
Berdasarkan perhitungan pada Selasa (17/02/2026) atau 29 Syaban 1447 Hijriyah, ijtimak terjadi pada pukul 21.01.07 WIT. Matahari terbenam pada pukul 18.47.09 WIT, sementara bulan terbenam pada pukul 18.40.08 WIT. Tinggi hilal tercatat minus 2 derajat 1 menit 37 detik dengan elongasi 1 derajat 32 menit 11 detik.
“Data ini menjadi dasar pelaksanaan rukyat hari ini,” kata Gede.
Dari hasil pengamatan di lokasi, hilal belum terlihat. Seluruh hasil rukyat dari berbagai titik di Indonesia akan dilaporkan kepada Menteri Agama RI sebagai bahan pertimbangan penetapan awal Ramadan 1447 Hijriyah melalui sidang isbat.
Gede mengimbau masyarakat menunggu keputusan resmi pemerintah. “Kami mengajak masyarakat mengikuti informasi secara tertib dan bijak serta menunggu keputusan resmi Kementerian Agama,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Maluku Utara Amar Manaf menyatakan, dengan posisi hilal yang masih berada di bawah ufuk, peluang terlihatnya hilal sangat kecil meskipun kondisi cuaca cerah.
“Dengan tinggi hilal minus 2 derajat, kemungkinan besar memang sulit terlihat. Karena itu, awal Ramadan belum dapat ditetapkan hari ini,” ujarnya.
Amar juga menegaskan pentingnya sikap saling menghormati jika terjadi perbedaan penetapan awal Ramadan di tengah masyarakat. “Perbedaan penetapan adalah hal yang wajar karena masing-masing memiliki dasar hukum. Yang penting, kita saling menghargai dan tidak saling menyalahkan,” katanya.


Tinggalkan Balasan