Delangi.com – Sentral Organisasi Pelajar Mahasiswa Indonesia Halmahera Timur (SeOPMI–HALTIM) akan menggelar Seminar Nasional pada 10 Februari 2026 sebagai salah satu program prioritas organisasi periode 2025–2026.
Kegiatan ini menjadi ruang diskusi strategis untuk merespons persoalan pembangunan daerah yang dinilai semakin kompleks, terutama akibat ekspansi sektor pertambangan di Halmahera Timur.
Ketua Panitia Pelaksana, Baswan Latawan, menjelaskan bahwa Halmahera Timur memiliki luas daratan sekitar 6.500–6.538 km² dan saat ini terdapat 102 Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang beroperasi di wilayah tersebut. Kondisi ini dinilai menjadi tantangan serius secara ekologis, ekonomi, dan sosial dalam jangka panjang.
“Seminar nasional ini menjadi bentuk komitmen generasi muda terhadap pentingnya pembangunan yang inklusif dan seimbang tanpa mengorbankan keberlanjutan masa depan,” ujar Baswan.
Ia menambahkan, meskipun Halmahera Timur mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi di Maluku Utara dengan angka 70,69 persen berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya berdampak pada kesejahteraan masyarakat.
“Sektor pertambangan memang mendominasi pertumbuhan, tetapi belum menyentuh kehidupan masyarakat secara adil. Karena itu, diperlukan kajian mendalam dan rekonsiliasi kebijakan yang akurat,” katanya.
Seminar nasional ini mengusung tema “Transformasi Pembangunan Daerah yang Berkelanjutan”, yang menitikberatkan pada keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan sosial, dan kelestarian lingkungan.
Menurut Baswan, hasil seminar akan dirumuskan dalam bentuk naskah akademik yang akan menjadi rekomendasi kebijakan pembangunan daerah.
“Ini bukan kegiatan seremonial. Hasilnya akan kami kawal agar dapat digunakan sebagai rujukan kebijakan daerah yang lebih inklusif dan berkeadilan,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Umum SeOPMI Haltim, Syahnakri Ciliu, menyebut kegiatan ini sebagai langkah strategis untuk memproyeksikan arah pembangunan berkelanjutan di Halmahera Timur, khususnya di tengah status daerah tersebut sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN).
“Forum ini penting sebagai kompas dalam pengambilan keputusan politik daerah. PSN memiliki dampak besar terhadap arah pembangunan, bahkan melampaui banyak dokumen perencanaan,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, pemerintah pusat telah mendorong percepatan PSN Kawasan Industri Buli sebagai bagian hulu industri baterai kendaraan listrik nasional.
Hal ini juga diperkuat dengan rencana pembangunan pabrik ekosistem baterai kendaraan listrik (EV) di Halmahera Timur dengan nilai investasi hampir USD 45 miliar.
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, bahkan telah meresmikan groundbreaking ekosistem industri baterai kendaraan listrik terintegrasi pada Juni 2025.
“Proyek ini adalah peluang sekaligus ancaman. Tanpa perencanaan yang matang, masyarakat dan lingkungan bisa menjadi korban. Karena itu, kami menghadirkan forum ini untuk menimbang secara serius arah pembangunan Halmahera Timur ke depan,” kata Syahnakri.
SeOPMI Haltim mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda Halmahera Timur, untuk terlibat aktif dalam menyumbangkan gagasan dan pemikiran kritis demi memastikan pembangunan daerah berjalan secara berkelanjutan, adil, dan berpihak pada masa depan generasi mendatang.


Tinggalkan Balasan