Delangi.com – Kementerian Kesehatan mencatat lonjakan signifikan kasus suspek chikungunya pada minggu pertama hingga kesembilan tahun 2025, dibandingkan periode yang sama pada 2023 dan 2024. Kondisi ini dinilai memerlukan intervensi petugas, termasuk pengendalian vektor penyebab penyakit.

“Pola ini sejalan dengan musim hujan di Indonesia, sehingga perlu diantisipasi kemungkinan kenaikan kasus pada pekan-pekan mendatang. Meski demikian, tren dalam dua bulan terakhir menunjukkan penurunan,” ujar Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, di Jakarta, Senin.

Data Kemenkes menunjukkan, sejak awal tahun hingga 25 Februari 2025, lebih dari 30.000 kasus chikungunya dan 14 kematian dilaporkan di 14 negara dan wilayah di Amerika, Afrika, Asia, dan Eropa. Di Indonesia, lima provinsi dengan kasus suspek tertinggi adalah Jawa Barat (6.674), Jawa Tengah (3.388), Jawa Timur (2.903), Sumatera Utara (1.074), dan Banten (838).

Chikungunya merupakan penyakit tropis yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Penderita umumnya mengalami demam, kelelahan, serta nyeri sendi dan tulang yang dapat berlangsung hingga berbulan-bulan. Beberapa kasus bahkan tidak menunjukkan gejala.

Belum ada pengobatan antivirus khusus untuk chikungunya. Penanganan dilakukan untuk meredakan gejala, seperti istirahat cukup, rehidrasi, dan obat pereda nyeri sendi.

Sebagai langkah pencegahan, Kemenkes memperkuat surveilans vektor, mengendalikan faktor risiko lingkungan, serta menilai sinyal alert penyakit berpotensi Kejadian Luar Biasa (KLB). Masyarakat diimbau melakukan 3M plus, yakni menguras dan menutup tempat penampungan air, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

Delangi Indonesia.com
Editor
Delangi Indonesia.com
Reporter