Delangi.com – “Pikiranmu seperti terjun payung, akan bekerja kecuali terbuka.” Jordan Maxwell.

Kutipan tersebut menyampaikan satu pesan sederhana namun fundamental: pikiran hanya bisa berfungsi bila ia terbuka. Seperti parasut yang tak berguna saat tertutup, pikiran yang tertutup akan jatuh dalam kehampaan- terjebak dalam kebodohan, fanatisme dan sikap anti-kritis. Maka pertanyaannya: apa kunci untuk membuka pikiran?

Jawabannya adalah filsafat. Ia bukan sekadar disiplin ilmu, melainkan fondasi dari segala bentuk berpikir reflektif. Filsafat mengajarkan kita untuk mempertanyakan, memahami, dan menimbang kebenaran secara jujur dan mendalam. Namun sayangnya, dalam masyarakat hari ini, filsafat justru dijauhi dan disalahpahami. Ia dianggap tabu, bahkan dikaitkan dengan kegilaan, kekafiran, dan penyimpangan dari nilai-nilai keagamaan.

Padahal yang sering menjauh dari nilai spiritual bukanlah filsafat, melainkan ilmu pengetahuan modern yang tak lagi menyisakan ruang bagi dimensi teologis. Banyak orang yang mengaku rasional justru menafikan kebenaran yang tak dapat diukur dengan angka, tetapi jelas terasa dalam nurani. Mereka aktif berjam-jam di media sosial, larut dalam kesenangan virtual, namun lalai dalam menunaikan tanggung jawab spiritual. Kesibukan duniawi melampaui panggilan jiwa.

Zaman ini menawarkan begitu banyak perubahan. Namun alih-alih mematangkan manusia, ia justru mengasingkan individu dari keutuhan dirinya sendiri. Manusia didikte oleh algoritma, kehilangan orientasi untuk menjadi pribadi yang utuh dan bijaksana.

Kondisi ini diperparah oleh krisis berpikir kritis di kalangan pemuda. Alih-alih berpikir secara reflektif, banyak yang lebih memilih menjadi pengekor. Gaya hidup konsumeristik, budaya viral, dan obsesi terhadap pengakuan membuat mereka kehilangan daya tahan intelektual. Fenomena ini menghidupkan kembali mentalitas inlander—mentalitas inferior yang mudah tunduk pada otoritas, tanpa daya untuk menimbang, apalagi menentang.

Di tengah krisis ini muncul fenomena yang bisa disebut sebagai “manipulasi kesadaran”: saat manusia sadar akan kebenaran, tapi sengaja menghindarinya. Slogan-slogan seperti “bodoh dulu, baru pintar” atau “buruk dulu, baru baik” hanyalah dalih untuk menunda pertumbuhan. Mengapa tidak pintar dan baik sejak awal? Mengapa harus menunggu jatuh untuk belajar berdiri?

Penyimpangan pola pikir ini bukan hal baru. Ia telah menjadi makanan sehari-hari dalam kehidupan sosial dan media sosial. Banyak yang lebih senang memamerkan kebodohan daripada memperluas wawasan. Ketika buku ditinggalkan dan literasi diganti dengan hiburan instan, pengetahuan kehilangan wibawa, dan kebodohan menjadi gaya hidup.

Lebih menyedihkan lagi, banyak orang kini mempraktikkan egosentrisme yang akut. Mereka hanya peduli pada dirinya sendiri, tak peduli derita orang lain. Padahal sejak awal sejarah manusia, kebersamaan adalah ciri utama kemanusiaan. Manusia purba berburu bersama, berbagi makanan, dan saling menjaga untuk bertahan hidup. Mereka membentuk komunitas, kerajaan, bahkan peradaban—semua lahir dari semangat kolektif, bukan ego pribadi.

Di era informasi seperti sekarang, seharusnya manusia menjadi lebih bijak. Pengetahuan bisa diakses kapan saja, hanya dengan gerakan jari. Namun kenyataannya, hanya zaman yang disebut dewasa, bukan manusianya. Banyak yang masih gagal mengelola ilmu, apalagi mengelola pikirannya. Mereka tidak hanya kehilangan arah, tapi kehilangan kemampuan untuk mencari arah.

Ironisnya, institusi-institusi pendidikan yang seharusnya menjadi taman berpikir justru berubah menjadi panggung fesyen dan kontes popularitas. Tempat di mana ilmu seharusnya disemai kini justru menyuburkan kemalasan intelektual. Tak heran bila daya kritis pemuda merosot hari demi hari.

Lebih tragis lagi, demonstrasi mahasiswa yang dulu menjadi simbol suara rakyat kini seringkali hanya menjadi ajang unjuk kepintaran. Kecerdasan dijadikan pertunjukan, bukan alat perjuangan. Padahal, kecerdasan yang sejati bukan untuk dipamerkan, tetapi digunakan untuk mengusulkan gagasan yang mencerahkan dan membela kepentingan bersama.

Kesimpulannya, zaman ini tidak kekurangan informasi, tapi kekurangan kebijaksanaan. Filsafat dibutuhkan lebih dari sebelumnya, bukan untuk menjauhkan manusia dari agama, tetapi untuk membawanya kembali ke akar kemanusiaannya. Jika pikiran kita tak kunjung dibuka, jangan salahkan zaman ketika kita jatuh tanpa sempat menarik parasut.

Delangi Indonesia.com
Editor
Delangi Indonesia.com
Reporter