Delangi.com – Jika hari ini dunia berbicara tentang transisi energi, sebenarnya percakapan itu tidak hanya terjadi di ruang konferensi iklim atau laboratorium teknologi baterai.

Percakapan itu juga sedang berlangsung di wilayah timur Indonesia, terkhususnya di Maluku Utara. Di sanalah, masa depan energi dunia secara perlahan sedang digali dari perut bumi.

Indonesia saat ini adalah pemain utama dalam rantai pasok energi global. Salah satu alasannya sederhana yaitu nikel. Mineral ini menjadi bahan utama baterai kendaraan listrik yang dianggap sebagai tulang punggung transisi energi global. Tanpa nikel, ambisi dunia untuk mengurangi emisi karbon melalui kendaraan listrik akan sulit terwujud.

Namun, di balik narasi besar tersebut ada fakta menarik. Banyak orang mengira pusat nikel Indonesia hanya ada di Sulawesi. Padahal setelah provinsi-provinsi di Sulawesi, Maluku Utara adalah salah satu wilayah dengan cadangan nikel terbesar di Indonesia.

Hal inilah yang membuat daerah seperti Halmahera Tengah, Halmahera Timur, dan Pulau Obi menjadi lokasi penting dalam rantai industri baterai dunia. Dampaknya terhadap ekonomi daerah sangat terasa.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Maluku Utara pada triwulan I 2025 tumbuh sekitar 34,58% (year-on-year), menjadikannya salah satu pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh sektor industri pengolahan dan pertambangan nikel yang meningkat sangat signifikan.

Bahkan pada triwulan II 2025, pertumbuhan ekonomi provinsi ini masih berada di angka sekitar 32%, sebuah lonjakan yang jarang terjadi dalam struktur ekonomi daerah di Indonesia.

Sekilas, ini terlihat seperti kisah sukses pembangunan berbasis sumber daya alam. Namun pertanyaannya: apakah pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu otomatis berarti ketahanan energi dan keadilan energi? Belum tentu.

Dalam berbagai kajian kebijakan energi, para intelektual Indonesia sering mengingatkan bahwa transisi energi bukan hanya soal mengganti bahan bakar fosil dengan teknologi baru.

Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), misalnya, dalam berbagai riset energi menekankan bahwa transisi energi harus memastikan keberlanjutan lingkungan dan distribusi manfaat yang adil bagi masyarakat lokal. Tanpa itu, transisi energi hanya akan menjadi “transisi industri”, bukan transisi keadilan.

Masalahnya, industri nikel Indonesia masih menyimpan kontradiksi. Banyak smelter nikel yang justru menggunakan pembangkit listrik berbasis batu bara untuk memproses mineral yang nantinya dipakai dalam teknologi energi bersih. Ironis, bukan? Dunia ingin mengurangi emisi karbon, tetapi bahan baku teknologi hijau masih diproduksi dengan energi kotor.

Di sisi lain, Indonesia sebenarnya memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar. Salah satunya adalah energi panas bumi. Data Kementerian ESDM menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi panas bumi sekitar 23 gigawatt (GW)—terbesar di dunia.

Namun hingga beberapa tahun terakhir, kapasitas pembangkit panas bumi yang sudah terpasang baru sekitar 2,6 GW. Artinya, potensi energi bersih ini masih sangat jauh dari optimal.

Yang menarik, kawasan Maluku juga memiliki potensi panas bumi sekitar 1.144 MW, yang berasal dari aktivitas vulkanik di wilayah cincin api Pasifik.

Jika potensi ini dikembangkan secara serius, Maluku Utara tidak hanya akan dikenal sebagai wilayah tambang nikel, tetapi juga sebagai pusat energi terbarukan Indonesia.

Di sinilah persoalan ketahanan energi menjadi penting. Ketahanan energi tidak hanya berarti memiliki cadangan sumber daya besar, tetapi juga kemampuan untuk mengelolanya secara berkelanjutan, efisien, dan adil bagi masyarakat.

Sayangnya, banyak wilayah kaya sumber daya justru mengalami paradoks pembangunan. Beberapa kabupaten di Maluku Utara yang menjadi pusat industri nikel masih menghadapi persoalan kemiskinan dan ketimpangan sosial. Data statistik menunjukkan bahwa daerah tambang tidak selalu identik dengan kesejahteraan masyarakat.

Inilah yang kemudian memunculkan diskusi tentang energy justice atau keadilan energi—sebuah konsep yang menekankan bahwa manfaat dari sumber daya energi harus dinikmati secara adil oleh masyarakat, bukan hanya oleh industri atau negara.

Dalam konteks ini, peran pemuda menjadi sangat penting, mahasiswa dan generasi muda tidak bisa hanya menjadi penonton dalam proyek besar bernama transisi energi.

Ada beberapa peran strategis yang bisa dimainkan. Pertama, mendorong riset kritis tentang energi. Kampus harus menjadi ruang lahirnya gagasan baru tentang energi bersih, teknologi baterai, hingga model industrialisasi yang lebih berkelanjutan.

Kedua, mengawal kebijakan energi yang adil. Pemuda memiliki posisi moral untuk mengkritisi kebijakan pembangunan yang hanya mengejar investasi tetapi mengabaikan lingkungan dan masyarakat lokal.

Ketiga, mengembangkan inovasi energi terbarukan berbasis komunitas. Maluku Utara memiliki potensi energi surya, angin, panas bumi, dan energi laut yang sangat besar jika dikelola dengan baik.

Pada akhirnya, nikel memang bisa menjadi tiket Indonesia menuju masa depan energi global. Namun tanpa kesadaran kritis dan partisipasi aktif masyarakat, terutama pemuda. Nikel juga bisa menjadi bab baru dalam sejarah eksploitasi sumber daya.

Maluku Utara hari ini sedang berdiri di panggung besar transisi energi dunia. Pertanyaannya sederhana tetapi menggugah: apakah daerah ini akan menjadi pusat keadilan energi masa depan, atau hanya menjadi lumbung bahan baku bagi revolusi energi negara lain?

Jawaban atas pertanyaan itu mungkin tidak hanya ditentukan oleh pemerintah atau perusahaan tambang. Bisa jadi, jawabannya justru sedang ditulis oleh generasi muda yang hari ini masih duduk di bangku kampus.

Delangi Indonesia.com
Editor
Delangi Indonesia.com
Reporter